Vivaldi: newcomer for WhatsApp Web

Tinggalkan komentar


Cerita dari Pengembang:

vivaldi browser

Our Story

In 1994, two programmers started working on a web browser. Our idea was to make a really fast browser, capable of running on limited hardware, keeping in mind that users are individuals with their own requirements and wishes. Opera was born. Our little piece of software gained traction, our group grew and a community was created. We stayed close to our users and to our roots. We kept improving our software, based on our users feedback, as well as our own ideas on how to make a great browser. We innovated and we strove for excellence.

Fast forward to 2015, the browser we once loved has changed its direction. Sadly, it is no longer serving its community of users and contributors who helped build the browser in the first place.

Lagi

WhatsApp Web Based… Exceptional!

Tinggalkan komentar


Dengan munculnya Android di Smartphone, kita semakin dimanjakan dengan berbagai kemudahan utamanya dalam komunikasi. Kemudahan saat bekerja memakai laptop/pc dan bisa berkomunikasi memakai aplikasi yang sedang naik daun saat ini tetap bisa kita lakukan… salah satunya dengan WhatsApp Web Based, sehingga kita tidak perlu buka smartphone, apalagi jika smartphone sedang di charge… šŸ˜‰

Visual aja deh… cerita panjang2 nanti jadi males lagi… PASTIKAN BROWSER YANG DIPAKAI “GOOGLE CHROME”, saya pakai Google Chrome versi linux debian di LinuxMint 17.

Langkah Pertama, pastikan jika WA sudah versi terbaru dan di Menu terdapat “WhatsApp Web”, jika sudah ada dengan mudah tinggal melakukan login ke URL “https://web.whatsapp.com” kemudian scan QR Code yang ditampilkan… belum ada “WhatsApp Web” di Menu… ikuti langkah di bawah…

WhatsApp Web

Lagi

Berkurang Tetapi Bertambah… Oops!

Tinggalkan komentar


Empat bulan tanpa nge-blog… bukan tanpa pengalaman yang pastinya, tetapi karena banyaknya kegiatan dan pengalaman baru sehingga tidak menyempatkan diri lagi untuk corat-coret di SAH.
BTB … “Berkurang Tetapi Bertambah” bingung dengan judulnya tetapi begitulah kenyataan yang dialami. Berawal dari kegiatan baru “ACP TKJ SMKN 1 KARAWANG” sebuah kelas khusus yang diselenggarakan satuan pendidikan bekerja sama dengan industri dalam hal ini Axioo untuk memberikan warna baru pengetahuan, keterampilan dan wawasan kepada siswanya.
Kelas 10, masih belum matang dan tidak bisa diajak berlari untuk impelemtasi teknologi baru yang mereka temui. Sebuah kewajaran karena mereka baru melepas masa belajar yang sedikit menggantungkan keterampilan pribadi ke arah pemenuhan keterampilan mandiri. Jika tanpa bermain “logika” rasanya hal yang mustahil memaksakan sebuah keterampilan yang membutuhkan kedewasaan berpikir dan bersikap kepada siswa yang baru lepas dari sekolah menengah pertama, tetapi kenyataan berkata lain. Kesabaran dan keinginan untuk memiliki keterampilan lebih menjadi pemicu agar “logika” cepat dimainkan sehingga masalah menjadi ada solusinya.
Intronya kepanjangan ah…
NAP … Notebook Assembly Program, sebuah program perakitan notebook yang diprakarsai oleh Axioo cq. MitraAbadi dan Rekan untuk siswa SMK khususnya saat ini pada Paket Keahlian TKJ.
Mahal menjadi Masalah… Murah harus jadi Solusi… sehingga awal dari NAP diambil paket yang murah harganya tetapi tetap harus kaya pengetahuan, keterampilan dan wawasan.
Berawal dari Mahal menjadi Masalah… Murah harus jadi Solusi… sehingga timbul judulĀ  Berkurang Tetapi Bertambah… Oops makin bingung. šŸ˜‰
Dengan semakin berkembangnya teknologi dan pemakaian USB, maka sebagian fasilitas yang dulu menjadi wajib ada harus tergantikan…
Berangkat dari hal itu, saat ini ditemui notebook tanpa port VGA dan RJ-45 yang biasanya wajib ada menjadi hilang tetapi solusinya tetap ada dan menjadi tantangan tersendiri untuk memenuhinya…

Lagi